cerpen seje dewe Jaka Kendil


Cerpen seje dewe Jaka Kendil bagian dua

Baca kisah sebelumnya : bagian satu

Berjalanlah mas Joko menyusuri terjalnya tebing,lebatnya rimba hutan paribasan munggah gunung mudun jurang menerjang aral merintang demi mimpi yang kerap mengganggu tidurnya untuk menggapai bintang di langit.

Sampailah mas Kendil di sebuah hutan.
Tapi berhubung musim kemarau hutannya gak terlalu hijau,apalagi diserang penebangan liar hutan jadi gundul pacul

“Wah,pohon pohon meranggas,meski hutan kok panas.”batin Jaka Kendil.
“Apalagi hutan hutan di lereng lereng,kalau plontos,sebentar lagi musim hujan bahaya tuh.”pikirnya lagi.

Asik asiknya mikir hutan dan lingkungan tiba tiba Kendil dikejutkan suara:”Iyit iyit.”Anak burung yang sarangnya di pohon Kendil berteduh.

“Kasihan loe burung,kemana sih emakmu?”Kata Kendil gremeng gremeng sama anak burung setelah ia panjat pohon dan melihatnya.

Burung emprit yang masih piyek itu seperti merasa Jaka Kendil adalah induknya,jadi iyik iyiknya makin kenceng.

“Oalah,nuk manuk kasihan bener kau ini,lapar ya?”Gremeng Kendil yang kemudian turun dari pohon.
Kendil yang memang pecinta binatang ingat tadi bekal dari simboknya kendil berisi beras.Ia bermaksud ngasih beras anak anak burung itu.

Jaka Kendil naik dan menyuapi anak burung itu dengan segenggam beras yang dibawanya.

“Meski kau burung,berhak hidup dan menikmatinya.”batin Kendil.

Mikir mikir perburungan Jaka kendil ingat sesuatu,lalu mengambil handphone jadulnya dan: “nit,nit,nit.”ngetik pesan KOMODO dan dikirim ke 9818 untuk mendukung pulau komodo menjadi salah satu keajaiban dunia yang polling sms nya berakhir tanggal 12 nopember,dan tak lupa ngabari simbokebahwa ia masih di perjalanan.

Setelah tiga hari tiga malam perjalanan sampailah Jaka Kendil di Kota Raja negeri Antah Barantah

Jaka Kendil yang pemuda dusun tolah toleh gak tahu apa yang harus dikerjakan.

Pada akhirnya Jaka Kendil menawarkan ijasah smp nya untuk melamar kerja kerja di pabrik pabrik maupun instansi yang ia temui sepanjang jalan ia keliling kota.

“Maaf tidak ada lowongan.”Tiap instansi atau pabrik yang ia sodori ijasahnya.

“Berjalan seorang pria muda dengan jaket lusuh di pundaknya…”Ealah kok ndilalah tukang rokok pinggir jalan tempat Kendil beli es muter CD wae yo lagunya mas Iwan Fals.

“Nasib nasib.”Gerutu Kendil.

Sampailah Jaka Kendil di alun alun Kota Raja,dan istirahat di bawah pohon ringin yang rindang.

Jaka Kendil tertidur dibawah pohon ringin.

“THONG THONG!”Seseorang memukul bende di dekat Jaka Kendil.

“Pengumuman!”Teriak orang itu.Belum sempat meneruskan kalimatnya tiba tiba:”AWDUH biyuh Pak Lik,sampean itu gak ngeliat apa,ada orang tidur diinjak tangane?”Kata Tarub kepada penabuh bende.
“Siapa kamu?kamu gepeng ya?”tanya orang itu yang juga kaget melihat Kendil di dekat kakinya.
“Gepeng,gepeng, tanganku ini yang gepeng kamu injak Lik.”gerutu Kendil.

“Kamu gelandangan dan pengemis,harus ditangkap!”Orang itu justru membentak Jaka Kendil.
“Bukan Lik,saya ini bukan gepeng,saya ini baru datang dari desa.”terang Kendil.
“Kamu urban,ada ktp gak?”tanya orang itu.
“Ada Lik,ini.”Kendil mengambil dompet dan menunjukkan ktp.
“Tujuanmu ke kota mau apa?”orang itu ndedes Kendil.
“Nah itu dia,kamu urban yang akan memenuhi kota ini,kamu harus ikut aku!”
“Lho sampean ini siapa?”tanya Kendil.
” Sudah jangan tanya melulu,ikut aku!”Orang itu menyeret tangan Kendil menuju suatu tempat.

Nah siapakah orang itu,dan bagaimana nasib Jaka Kendil,silahkan kembali ke blog ini untuk mengetahui kelanjutannya dan membaca cerpen lainnya.cerpen seje dewe memang oh ye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s