Pak Lik Saya


cerpen dunia maya:

“Bu Nem ada yang minta sumbangan.”Kata bu Endah kepada bu Minem ketika sampai pintu kantor guru.
Yang diajak bicara tidak menjawab,bu Minem sibuk mengoreksi hasil ulang matematika kelas enam.

“Bu,ada yang minta sumbangan tuh!”Kali ini agak keras dan sambil menepuk pundak bu Minem.
Bu Minem agak terkejut.
“Lho,minta sumbangan ya dikasih to,kok ngomong saya?”Jawab bu Minem.
“Orang dikasih gak mau kok bu.”bu Endah menjelaskan.
“Gak mau bagaimana?”Tanya bu Minem yang telah selesai mengoreksi ulangan muridnya.
“Dia minta sumbangannya dengan menjual barang bu,seperti tulisan Pancasila yang ditulis di kain.”
“Ya sudah dibeli saja dan minta sumbangan kepada guru yang lain.”Saran bu Minem.
“Ah,bu Minem saja,saya gak berani.”jawab bu Endah.
“Uh,dasar.”bu Minem seraya keluar ruangan.

Lelaki tak bertangan itu telah limabelas menitan duduk dibawah tiang teras depan kelas lima.
Meski perasaannya gelisah ia bersabar menunggu para guru membeli dagangan yang di bawanya.
“Bapak dari yayasan apa?”tanya pak Wandi ketika lewat.
Lelaki tak bertangan itu berdiri:”Maaf pak silahkan ambil surat surat dalam map di dalam kaos saya.”
Pak Wandi mengambil map yang ujungnya nampak tersembul di bawah dagu orang itu,sedang orang itu sedikit membusungkan dada.
Lelaki tak bertangan itu menyandarkan badannya pada tiang,sehingga ketika bu Minem keluar kantor tidak bisa melihat jelas,kecuali ujung bawah baju yang tertiup angin,karena terhalang tiang.

“Dari yayasan apa pak?”tanya bu Minem ketika sudah dekat pak Wandi.
“Ini bu dari yayasan penderita cacat.”Jawab pak Wandi.
Lelaki tak bertangan itu menatap bu Minem,demikian juga bu Minem.

“LHOH!” Keduanya bergumam lirih sama sama terkejut.
Lelaki tak bertangan itu mengedipkan mata,berharap supaya bu Minem diam dan pura pura tidak kenal.
Bu Minem tidak menghiraukan itu,ia mendekati lelaki itu merangkul dan menciumminya.

“Lho,ada apa ini?”tanya Pak Wandi.

Bu Minem tak menghiraukan pertanyaan pak Wandi,segera diajaknya lelaki itu ke kantor guru.Pak Wandi menyusul.

Kebetulan jam istirahat para murid,para guru menuju kantor.

“Kenapa Lik,tetap saja lik dimanapun pak Lik ini tetap pak Lik saya.”
“Saya khawatir Nem,kamu malu dengan teman teman gurumu.”
“Malu malu,orang memang pak Lik saya kok malu.”jawab bu Minem.

Guru guru telah berkumpul.
“Siapa to bu Nem sebenarnya?”tanya bu Mujirah.
Kemudian bu Minem memperkenalkan kepada teman teman gurunya.
“Ini adalah pak lik saya yang tinggal di Madiun,dulu ikut akrobat,tapi sekarang tidak.”
Kemudian ada yang tanya:”Maaf pak,kok tangannya,,?”
Yang menjelaskan bu Minem karena tampaknya lelaki itu masih terharu dengan sikap bu Minem.

“Dulu waktu pak lik saya ini masih remaja,kerjanya cari kayu ke hutan Saradan dengan naik kereta api.”

“Nah,kalau ke hutan Saradan naik kereta api,tapi kalau turun harus lompat,pas lompat pak Lik saya tersandung batu,jatuh tangannya yang kanan tergilas roda,sedang yang satu patah,oleh dokter dipotong sekalian karena tidak mungkin disembuhkan.”terang bu Minem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s