BU GURU (4)



“Begini pak guru,Marni boleh ikut baris tapi jangan disuruh potong rambut.”jawab simbok.
“Memang kenapa to bu kalau Marni potong rambut,apa ndak boleh sama mbahnya?”canda pak guru.
“Bukan begitu pak guru,tapi Marni biar tetap cantik.”
“Lho memang kalau rambutnya pendek tidak cantik to bu Tum?”
“Orang perempuan kok rambutnya pendek kayak wong lanang.”gerutu simbok Tumi.
Bu Narsih dan pak Purwanto yang dari tadi mendengar jadi tersenyum.
“Bu Tum,kalau pendek biar koyo di televisi.”celetuk bu Narsih.
“Alah mboten pokoknya bu guru,gak ikut baris gak papa,pokoknya jangan suruh Marni potong rambut.”bu Tum ngeyel.
“Nggih sampun bu Tum,Marni gak potong rambut gak papa,tapi tetep boleh ikut baris yo bu?”pak Marto mulai mengerti.
“Inggih pak guru boleh.”
Simbok Tum pamit,sementara pak Marto ingat sesuatu.
“Marni sebenarnya murid pandai,ia sejak kelas satu selalu dapat rangking pertama.Tapi tiap ada kegiatan extra semisal baris berbaris tidak pernah ikut.Alasannya kalau gak punya bajunya atau sepatu,biarlah kali ini dia ikut”pikir pak Marto.

“Hem.”Senyum kecil hati bu Guru Marni akan peristiwa itu.
Secara reflek tangannya meraba rambutnya.”Ah,rambutku pendek hanya sebahu,dulu panjang sampai bawah pinggang.”kenangnya.”Rambut Laura kini gak ada Wit.”ia teringat Wito teman SMP nya itu.
Ia Marni telah memotong rambutnya sejak menikah,tapi belum jadi guru.Marni minta ijin simboknya dan diperbolehkan setelah dibuju Marni.
“Pluk!”sebuah tepukan di bahu mengejutkan bu guru Marni yang memang melamun.
“Ibu ini melamun,awas adonan kue nanti keliru kebanyakan garam.”kata Wasis . (smbung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s