ORANG NYLENEH


***Kukatakan mbah Tumin orang nyleneh karena menurutku beliau orang yang menyimpan misteri bagiku.

Kami sama sama buruh tebang tebu,mbah Tumin yang usianya sekitar limapuluh tahun masih sanggup mengimbangi kami yang masih muda.
“Mau kemana mbah,magrib begini menata tebon?”tanyaku ketika kami habis sholat magrib di kontrakan.
“Mau ngantar pakan ini ke rumah.”jawab beliau sambil tetap menata ikatan daun tebu di sepeda ontelnya.
“Mau pulang,jadi mbah Tumin besok nggak nebang dong?”
“Nanti sebelum isya’ aku juga datang.”
“Gimana mbah?”aku tanya karena heran.Bagaimana, tidak rumah kami di lain kabupaten yang berjarak kurang lebih tigaratusan kilo,cuma aku dan mbah Tumin beda kecamatan.Andai naik bus pun memakan waktu kurang lebih delapan jam pulang pergi,lagian apa boleh naik jika membawa tebon dan sepeda.
“Ah mbah guyon aja embah ini.”kataku sambil kutinggalkan mbah Tumin,dan aku cari makan di warung.

Sekitar setengah jam aku makan di warung,aku pulang,ternyata di kontrakan hanya ada Parno dan Sarni yang sedang main remi.

“Assalamualaikum!”terdengar salam dari luar.
Ternyata mbah Tumin sambil memasukkan sepeda ontelnya ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,tebonnya ditaruh dimana mbah?”
“Sudah aku antar pulang.”kemudian mbah Tumin menuju kamar mandi mengambil wudlu,aku mengikutinya karena adzan isya’ sudah terdengar.
“No,Ni ayo sholat dah adzan tuh!”ajak mbah Tumin kepada Parno dan Sarni,yang kemudian buru buru berwudlu.

Kemudian kami sholat jamaah.
“Besok keponakanku mau ikut tebang di sini”kata mbah Tumin sehabis sholat.

Benar saja esok harinya keponakan mbah Tumin datang dan langsung menyusul kami di tebon tebu dan diantar mandor Pangat.
Aku iseng bertanya kepada keponakan mbah Tumin:”apa benar kemarin sore mbah Tumin pulang?”
“Benar kang tapi cuman sebentar ngantar tebon,dan kebetulan aku ada di rumah Lik Tumin dan di ajak.”
Aku jani penasaran siapa mbah Tumin.

Tiga bulan buruh tebang tebu di tempat jauh,musim giling telah selesai kami pulang.

Pada satu kesempatan aku sambang ke rumah mbah Tumin.
“Siapa mbah tadi?”tanyaku ketika aku masuk rumahnya dan kebetulan ada tamu beberapa anak muda bersarung dan berpeci berpapasan di depan.
“Itu anak anak minta diajari penanggalan dan menentukan waktu gerhana.”

Ah mbah Tumin yang nyleneh,ternyata seorang sepuh yang dihormati di desanya,terbukti saat aku bertamu ada beberapa orang datang dan meminta wejangan serta petunjuk.
Aku hanya bisa bengong dan terkejut yang kusembunyikan,ternyata mbah Tumin yang teman tebang tebu ini orang ngerti dan dihormati,sedang tingkahku kepadanya biasa biasa dan malah kadang tidak sopan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s