PERTEMUAN


Siang yang panas,tetapi tak terasa karena aku berada di daerah pegunungan yang dingin.

Sejak pukul sembilan aku buka warung baksoku beberapa langganan telah datang,dan kebetulan hari pasaran,jadi banyak pembeli yang datang dan pergi.Aku dan istriku lumayan sibuk hari ini.Hari senin kliwon hari pasaran,kebetulan warung baksoku dekat pasar.

Jam setengah satu,hemm.,agak sepi,aku berniat makan siang,ketika ada mobil angkutan berhenti menurunkan penumpang.Siapa ya mungkin langgananku mau mampir,maka aku urungkan makanku.

"Oh ternyata adikku yang dari kota lain.""Ada apa ya?"pikirku.Adikku masih bujang usianya sekitar duapuluhtiga tahun.Dulu beberapa tahun yang lalu juga ikut di kota kecil ini untuk berjualan bakso.Tapi setahun yang lalu adikku pilih merantau ke Jakarta,mungkin dia sekarang sedang pulang di rumah ibu yang di kabupaten lain.

Kali ini adikku datang dengan temannya yang kelihatan usianya dibawah usia adik lelakiku ini.

"Kulanuwun."salam adikku.Aku tidak menjawab salamnya tapi aku tanya dia:"Kapan datang dari Jakarta?""Sudah seminggu." jawab adikku.Kemudian adikku
memperkenalkan temannya.

"Ini keponakan penyanyi top dari Surabaya."kata adikku."Aku mau diajak rekaman omnya."Lanjut adikku yang memang punya kepandaian menyanyi dan main musik.

Adikku langsung masuk ke belakang menemui istriku dan membiarkan temannya duduk dalam warung.

Tapi aku ada perasaan aneh dengan teman adikku ini,seperti aku mengenalnya dan bukan orang asing,tapi aku percaya sama adikku seperti penuturannya.

Sejak masuk warung teman adikku memperhatikanku,dan tak lepas memandangiku.Aku heran tapi tak kutunjukkan.Dia terus menatap aku seperti mau mengatakan sesuatu tapi tak disampaikannya.

Aku membuatkan es teh dan juga bakso dan kupersilahkan makan.Dia menerimanya tapi tidak segera dimakan,dia hanya menatapku dan seperti akan berkata sesuatu.

"Kenapa dengan anak ini?" pikirku.Aku juga aneh ada perasaan aneh menjalar di hatiku.

Ketika tiba tiba saja istriku mendatangi anak itu sambil berkata:Pak ini anakmu.”kemudian merangkulnya.

“Apa bu?”tanyaku,tanpa perlu jawaban aku ikut merangkul anak itu.

“Pak.”Kata anak itu sambil menahan sesenggukan tangis haru,demikian juga aku dan istriku.

Dia ternyata anakku dari istri pertamaku yang sejak usia satu tahun aku tinggal.

Ketika itu aku merantau ke Sumatera,tapi gagal total.Tiga tahun kemudian aku pulang,anak dan istri yang dulu tinggal di rumah orangtuaku pulang ke orangtuanya.Tapi di sana menurut orangtuanya istriku bekerjam di Surabaya.Yah tiga tahun aku mencari dia tapi tak ada berita,kemudian aku putuskan menceraikan dia dan aku menikah lagi dan di karuniai dua anak.

“Ini ibumu.”aku perkenalkan istriku kepadanya.”Iya pak,aku juga sudah kenal adik.”jawabnya.Tentu sebelum kesini tadi sudah ke neneknya dan bertemu adik adiknya di rumah ibuku dan minta diantar omnya menemuiku.

Kami dalam tangis haru,anakku yang enambelas tahun tidak mengenalku kini datang menemuiku.Yang ia ingat hanya kakek nenek dan omnya,karena waktu ia diajak ibunya sekitar usia tiga tahunan.

Oh…anakku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s