AKU PERNAH MATI (3)


Ya kini giliranku menyeberang.Aku mulai menapakkan kakiku di atas jembatan kecil yang kalau boleh aku bilang sebesar rambut bahkan mungkin lebih kecil lagi.

Tapi tanpa aku mengerti jembatan itu membesar,sehingga dengan mudah aku menapakkan kakiku.pelan tapi pasti aku melangkah.Tak aku pedulikan api di dalam jurang serta suara suara rintihan dan permintaan tolong yang memilukan.

Tubuhkan terasa amat ringan dan sepertinya aku berjalan amat cepat sehingga ujung jembatan seberang sudah kelihatan.Akhirnya aku sampai juga di seberang.

Tempat ini tidak aku kenal,bahkan tempat ini sangat indah.Indah sekali,saya menduga tidak ada tempat seindah ini di tempat lain.

Aku berjalan,di jalan yang bagus dengan kiri kanan tanaman menghijau menyejukkan serta berderet deret rumah yang elok.

Di dalam rumah itu ternyata ada wanita wanita yang sangat cantik,kecantikan yang sulit aku gambarkan.

Sesekali di antara mereka keluar rumah dan mengajak aku mampir.Tapi seperti sebuah dorongan aku tidak boleh melakukannya serta tanpa sadar aku mengucap kepada mereka:”aku belum saatnya.”

Aku berjalan dan terus berjalan,tetapi dalam perjalanan ini aku melihat matahari dan bulan sangat dekat,dan seperti sebuah bisikan aku diberitahu siapa yang mengendalikan matahari dan bulan itu.

Aku berjalan lagi,hingga akhirnya ujung jalan yang aku telusuri tertuju pada sebuah masjid yang sangat besar.baca berikutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s