AKU PERNAH MATI (1)


Sepertinya aku sudah gak tahan dengan sakitku ini,penyakit yang hampir dua minggu nongkrong ditubuhku membuat aku jadi sangat lemah.

Tubuhku benar benar tak berdaya dengan rasa sakit yang aku sendiri tidak tahu di mana tempatnya pada bagian tubuhku ini.Aku hanya bisa berbaring dan berbaring di atas dipan bambu yang terasa amat keras bagi tubuhku sambil menahan rasa panas dan dingin yang setiap saat berubah tanpa aku ketahui kapan terjadi.

Apalagi dalam lima hari terakhir aku sudah gak bisa berdiri ataupun duduk,dan segala keperluanku di tangani famili familiku.

Sampai pada suatu waktu,entah bagaimana mulanya aku tiba tiba bisa bangun dan seperti ada kekuatan mendorong kemauanku untuk meninggalkan tempatku itu.

Aku heran yang amat sangat,aku merasa sembuh dari sakitku,aku merasa amat sehat dan ringan,bahkan lebih heran lagi aku yang sebenarnya berumur duapuluh enam tahun ternyata aku merasa menjadi lelaki berusia tigapuluh sembilan tahun.

Kekuatan mendorong kemauanku terus mengajakku pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dengan berjalan kaki.Yah aku berjalan dan terus berjalan mengikuti kemauan yang tak bisa kutolak.

Pada akhirnya aku sampai juga tempat yang aku rasa ini adalah tujuan pendorong kemauanku.Adalah tempat yang dipisahkan jurang yang menganga yang di dalam jurang terdapat api yang berkobar kobar.Aku tidak bisa menggambarkan begitu besar dan dahsyatnya kobaran api di dalam jurang itu.

Ngeri yang tak akan terperi bagi hati manusia bila melihat api itu,tapi seperti sebuah keharusan bahwasanya aku harus melewati jurang itu.

Entahlah aku sepertinya melihat sepertinya sebatang kawat yang panjang yang menghubungkan bibir jurang tempat aku berada dengan tepian di ujung sana yang tidak kelihatan.

Ketika aku akan mencoba menapaki kawat itu tiba tiba ada dua orang laki perempuan yang mendahuluiku menginjak kawat itu untuk menyeberang.Mereka tampak takut yang amat sangat.Mereka sempat bercekcok dan yang perempuan menyebut tentang:” engkau imam.” Akhirnya yang lelaki mendahului sambil tangannya memegang tangan si perempuan.Tampaknya mereka adalah suami istri.

Belum lagi lelaki itu menginjakkan kaki pada yang aku sebut kawat sangat kecil tadi,tiba tiba dari ujung seberang sana muncul anak kecil sambil berteriak:”Ayah ibu jangan takut,ini aku anakmu,mari aku tuntun ayah ibu.baca selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s